K-Pop dan Krisis Nasionalisme

Kedatangan Boy band Korea SUJU ( Super Junior ) disambut hiruk pikuk dan kehebohan luar biasa oleh remaja anak baru gede (ABG) kita. Boy Band fenomenal ini berhasil menyebar histeria dan mengkampanyekan K-Pop ( Korean Pop atau Budaya Korea ) khususnya kepada generasi muda kita dalam waktu beberapa bulan terakhir ini.
Sungguh ironis, demi mendapatkan tiket Konser SUJU mereka yang masih berada dalam margin usia SD - SMA itu rela bermalam di lokasi - lokasi tiket box, bahkan sampai meupakan sekolah ( membolos ). Ada juga yang sampai tidak memperdulikan persiapan untuk menghadapi ujian nasional, sehingga semua energi, konsentrasi dan waktu dicurahkan demi melihat grup boy band pujaan mereka. Padahal jika dicermati track discography pasang surut boy band legendaris dunia di setiap zamanya, kemampuan bernyanyi, koreografi dan artistik grup SUJU ini termasuk dibawah standar bila dibandingkan dengan boy-band The Jackson's Five diera '70an, NKOTB (New Kid's On The Block) diera '90an, Tate That. Westlife, Boyzone dan beberapa nama lain diera medio tahun 2000-an. Artinya, sejak dulu pun pengaruh budaya populer sudah ada, namun yang bisa memberikan pengaruh hanya grup-grup yang memiliki kemampuan yang nyaris sempurna, sehingga trendnya pun menjadi massive dan universal. Semua belahan dunia terpengaruh.
Bandingkan dengan trend K-Pop pada saat ini, para pelajar di negara - negara tetangga seperti Singapura,Malaysia,Brunei Darussalam,Thailand,Vietnam,Myanmar yang relatif memiliki karakteristik budaya yang sama tidak ikut - ikutan latah seperti kita. Ini mengindikasikan, pelajar kita saat ini mengalami krisis identitas. Identitas seorang pelajar tentunya adalah nasionalisme yang diimplementasikan dalam bentuk cinta dan bangga kepada budaya nasional. Coba lihat, ketika di Jepang para pelajar demam gaya busana harajuku, kitapun segera ikut - ikutan. Begitu juga dengan gencarnya K-Pop ini, pelajar kita berlomba - lomba mengecat rambut dan berpakaian ala remaja - remaja Korea.
Hal tersebut menjadi PR berat bagi para guru PKN (Pendidikan Kewarga Negaraan) di sekolah untuk mencari metode pengajaran yang lebih menarik, agar nasionalisme dan cinta kepada kebudayaan nasional dapat menjadi sikap hidup pelajar, sehingga apapun trend yang masuk, mereka tidak sangat mudah untuk terpengaruh. -s
(Iip Wijayanto, dai dan pemerhati remaja)

Kedaulatan Rakyat, senin 7 mei 2012


Jangan asal copas gan.
Baca dulu > peraturan copy paste post

Comments

Popular Posts